Perang Dagang Bikin Was – Was ! Kinerja Ekspor Sumut Melambat 

MEDAN –  Realisasi kinerja ekspor Sumatera Utara (Sumut) di tahun 2024 dibandingkan dengan tahun 2023 berdasarkan nilai FOB (freight on board) naik sebesar 3% secara kumulatif.

Namun jika mengacu kepada realisasi dari berat bersih justru mengalami penurunan sekitar 6.89%. Bahkan, kinerja ekspor Sumut yang dihitung dari berat bersih masih lebih rendah 1.7% (2024) dibandingkan dengan tahun 2022.

Sementara, kata Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benyamin, Rabu (12/3/2025) di Medan, kalau dihitung berdasarkan nilai FOB, ekspor Sumut masih lebih rendah 9.2% dibandingkan dengan realisasi kinerjanya pada tahun 2021 saat pandemi covid 19 masih berlangsung.

Padahal eskpor yang dihitung berdasarkan FOB sangat dipengaruhi oleh volume, nilai tukar beserta harga komoditas ekspor di pasaran.

Pelemahan kinerja Ekspor Sumut terjadi disaat dunia tengah berhadapan dengan kebjakan kenaikan tarif yang memicu perang dagang. Sulit untuk melihat bagaimana pengaruh perang dagang terhadap kinerja ekspor Sumut secara keseluruhan. Namun, ujar Gunawan, yang pasti kebijakan perang dagang belakangan ini tensinya terus mengalami peningkatan.

Dengan kebiajakan kenaikan tarif yang terus berubah-ubah. Situasi seperti ini tentunya membuat kita was-was akan kemungkinan dampak buruk yang lebih besar yang akan terjadi di masa mendatang.”Kondisi perang dagang seperti saat ini, sudah bisa dipastikan kian membebani pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumatera Utara,” kata Gunawan.

Di tahun ini, sebutnya, Sumut menghadapi ancaman serus perlambatan ekonomi, dengan kontribusi ekspor terhadap PDB yang kian melemah. Ekspor yang melemah juga bisa membuat harga komoditas ekspor di pasar global tidak sejalan dengan pembentukan harga komoditas di level petani.

“Yang nantinya akan membuat daya beli petani khususnya untuk tanaman perkebunan rakyat alami tekanan,” ujarnya.

Ekspor dari sisi berat atau tonase yang turun, itu bisa menjadi cermin bagaimana kondisi ekonomi negara lain yang menjadi importir produk dari Sumut. Dan tulang punggung perekonomian masyarakat Sumut ada di industri sawit dari hulu ke hilirnya.

Melemahnya kinerja ekspor, menurutnya, jelas sangat potensial menekan belanja masyarakat yang ada wilayah Sumut secara keseluruhan. Karena industri di Sumut ditopang oleh sektor pertaniannya.(red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *