Harga Komoditas Kedelai Alami Tekanan, Harga CPO Ikut Terseret

MEDAN – Harga clude palm oil (CPO) dunia belakangan ini mengalami koreksi setelah sempat menyentuh level tertinggi 5.142 ringgit per ton di bulan Desember 2024 ini. Harga CPO saat ini ditransaksikan dikisaran 4.938 ringgit per tonnya.

Bahkan sempat menyentuh level terendah 4.850 ringgit per ton pada tanggal 11 kemarin. Pelemahan harga CPO tersebut juga telah mengerek penurunan harga pada lelang CPO Kharisma pemasaran bersama (KPBN).

Seperti disampaikan Pengamat Ekonomi, Gunawan Benyamin, Jumat (13/12/2024) di Medan, harga CPO mengalami tekanan dan meninggalkan harga 16.000 per Kg yang sempat diraih pada akhir pekan sebelumnya. Harga CPO pada lelang KPBN dikisaran 15.600 per Kg pada hari ini. Penurunan harga CPO sendiri bisa dipicu oleh beragam faktor, namun yang menjadi fokus perhatian pasar adalah penurunan pada harga pesaing minyak sawit seperti kacang kedelai.

Dimana, menurutnya, kacang kedelai sejauh ini masih berada dalam tekanan sejak akhir bulan September sebelumnya. Harga kacang kedelai mengalami pelemahan dari sekitar $10.24 per bushel di September lalu, dan saat ini ditransaksikan dikisaran $9.9 per bushelnya.

Penurunan harga kedelai ini dipicu oleh meningkatnya supply atau persediaan dari sejumlah wilayah produsen seperti Brazil dan Argentina.

Selain panen yang melimpah tersebut, disebutnya, kinerja mata uang rupiah juga sangat berpemgaruh terhadap pembentukan harga CPO di tanah air. Dalam sepekan terakhir, rupiah bergerak dalam rentang 15.850 hingga 16 ribu per US Dolar. Pada saat rupiah berada pada posisi terkuatnya, harga CPO rentan mengalami koreksi.

Kedepan, demand atau permintaan yang akan menjadi tolak ukur pembentukan harga CPO nantinya.”Sayang sejauh ini kinerja ekspor Sumut justru mengalami koreksi sekitar 10% selama tahun berjalan 2024, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya,” ujarnya.

Pelemahan ini seakan menunjukan bahwa perlambatan ekonomi global yang diramalkan IMF, akan sangat berpeluang menekan kinerja ekspor Sumut dan membuart ekspektasi harga CPO ataus awit kedepan menjadi kurang bergairah.

Meskipun ada harapan bahwa demand untuk CPO dari pasar di tanah air akan mengalami peningkatan. Dimana peningkatan demand tersebut mengikuti langkah pemerintah dalam meningkatkan penyerapan CPO untuk pemenuhan kebutuhan Bio Diesel.(red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *